Karyawan itu Aset atau Biaya (Beban)?

Karyawan itu seringnya dianggap Biaya, dan memang iya. Tapi jangan semena-mena, Karena karyawan bisa jadi adalah Aset tak ternilai. Ini cara menentukannya.

Kebanyakan perusahaan, menempatkan posisi karyawan sebagai beban perusahaan. Dalam aspek keuangan, mereka adalah biaya.

Tapi, perlu kita pahami, mereka juga bisa menjadi Aset bagi perusahaan, termasuk dalam intangible asset bagi perusahaan. Dan perusahaan bisa berhenti jika tanpa ada mereka.

Baiknya kita sama-sama belajar untuk melihat apa sih sebenernya posisi karyawan dalam sebuah perusahaan. Posisi karyawan itu Beban (Biaya) atau Aset bagi Perusahaan & apa yang menentukan posisi tersebut.

Berikut landasan & sudut pandang (perspective) yang bisa menjadi acuan untuk menentukan posisi karyawan dalam perusahaan.

1. Berdasarkan Sudut Pandang Perusahaan

Penempatan posisi karyawan jika dinilai pake aspek ini tuh kurang asik, tapi baiknya kita bahas aja sekedar untuk menambah wawasan & pengetahuan.

Pada penentuan posisi karyawan ini, mutlak di nilai berdasarkan sudut pandang perusahaan.

Sejauh yang Aku tahu, ada yang menilai bahwa semua karyawan dalam perusahaan itu biaya (beban). Ada pula yang mengatakan, level manajer (mulai supervisor keatas) itu aset, tapi selain itu biaya (beban). Ada juga yang mengatakan, semua karyawannya itu aset.

Apapun yang dipilih diatas, murni hak propagative perusahaan untuk menilai & menempatkan posisi karyawannya dalam perusahaan. Apapun hasil & aktivitas yang dilakukan oleh karyawan, jika perusahaan menganggap itu biaya, ya tetap biaya.

Seperi yang udah coba Aku sampaikan diatas, cara ini kurang asik. Coba kita lanjut pembahasan yang lebih asik yaitu mencoba menilai karyawan berdasarkan rumusan yang lebih kongkrit & jelas.

2. Berdasarkan Rumusan & Realistis

Ini yang menurutku lebih asik. Dimana kita belajar lebih realistis dan bisa memberikan nilai & menghargai atas effort yang dilakukan oleh setiap karyawan VS harga yang dibayar oleh perusahaan. Prinsip Dasar

Prinsip Dasar

Perlu kita pahami dulu beberapa prinsipnya sebelum lebih jauh membahas tentang rumus.

Prinsip 1: Karyawan dengan perusahaan adalah ikatan transaksi. Dimana karyawan punya tenaga, pikiran & waktu, sedangkan perusahaan punya uang. Kedua itulah yang jadi bahan transaksi antara perusahaan & karyawan.

Menurutku, uang VS tenaga, pikiran & waktu itu adalah bahan transaksi dasar aja. Selain itu, perusahaan maupun karyawan baiknya membuat added value (sesuatu yang lebih dari itu). Supaya apa? ya biar salah satu pihak merasa lebih diuntungkan.

Contoh value lebih yang bisa dibuat oleh perusahaan: Toleransi keterlambatan, kerja fleksibel, makan-makan gratis, menumbuhkan skill & mental karyawan. dan banyak lagi, tinggal kreatif-kreatif aja untuk bikin value(manfaat) lebih.

Contoh value lebih yang bisa dibuat oleh karyawan: ikut mendoakan perusahaan & orang2 yang terkait dalam perusahaan (customer, karyawan, investor, partner, dll). Mau pulang lebih dari jam kerja tanpa nuntut jam lembur. Membuat hasil kerja lebih dari yang di ekspektasikan perusahaan, memberikan ide kreatif, dll. Ya sama, kreatif-kreatif an aja.

Prinsip 2: Karyawan dibayar untuk melakukan aktifitas yang menunjang pergerakan bisnis dalam perusahaan yang menghasilkan value (bisa diartikan: sesuatu yang bermanfaat) yang dianggap penting oleh perusahaan.

Prinsip 3: Dalam hubungan antar 2 pihak, saat kita merasa lebih diuntungkan, kita akan berusaha mempertahankan & akan merasa kehilangan saat ditinggalkan. Betul kan?

Rumus Penempatan Karyawan

Oke, dari prinsip-prinsip diatas, kita bisa menarik rumusan seperti ini:

Value dari Perusahaan > Value dari Karyawan = Karyawan adalah Beban
Value dari Perusahaan < Value dari Karyawan = Karyawan adalah Aset

Bingung? Maksudnya gini. Karyawan akan menjadi Aset apabila value yang diberikan perusahaan lebih kecil/murah dibandingkan value yang diberikan karyawan .

Namun sebaliknya, Karyawan akan menjadi Beban apabila value yang diberikan perusahaan lebih besar/mahal dibandingkan value yang diberikan karyawan.

Lhah? Berarti kita sebagai karyawan harus lebih murah dong? Ya kalo mau dianggap aset & dipertahankan, ya berarti harus gitu. Dalam hal ini, Aku sebagai CEO di Qlobot juga karyawan. Jika performa keuangan perusahaan yang Aku pimpin ternyata nggak profit (naudzubillah 😐) ya Aku siap nggak gajian, bahkan siap ditendang dari perusahaan.

Secara sederhana, jika kontribusi kita lebih besar dibandingkan harga yang dibayar oleh perusahaan. Pasti perusahaan akan merasa rugi & kehilangan saat kita tinggalkan. Ya kan?

Oke, coba kita belajar & memahami psikologi dasar manusia dalam bertransaksi.

Saat kita membeli barang/jasa. jika nilai harga yang kita bayar lebih kecil dibanding nilai manfaat yang kita dapat, maka kita tidak akan bermasalah untuk berlangganan. Karena secara sadar atau tidak, kita merasa produk/jasa itu kita anggap murah & bisa memberikan manfaat lebih saat kita membeli/bertransaksi.

Contoh aja saat kita beli Paket data/Internet. Jika kita nggak ada jaringan internet, kita nggak bisa kerja, tapi dengan adanya internet kita bisa kerja & mencetak profit sampai puluhan hingga ratusan juta. Maka membeli layanan internet itu kita merasa lebih diuntungkan & akan dengan suka rela berlangganan.

Cotoh lain, saat kita berbisnis & menjual produk atau jasa, maka apa yang kita jual harus mempunyai nilai manfaat yang lebih besar daripada yang harga dibayar oleh customer kita. Jika produk/jasa yang kita jual lebih kecil manfaatnya daripada yang dibayar oleh customer kita, pasti mereka enggan membeli apalagi berlangganan.

Kesimpulan

Setiap perusahaan punya cara pandang & rumusan dalam menempatkan Posisi Karyawan, bisa menjadi Aset ataupun Biaya (Beban).

Apapun cara pandang perusahaan terhadap kita sebagai karyawan, penting bagi kita untuk menjadi Aset bagi perusahaan yang kita tempati. Lebih dari karena perusahaan tersebut menjadi jalan rejeki untuk kita & keluarga kita, tapi saat kita terbiasa membuat value/manfaat yang lebih dalam setiap tempat yang kita tempati, maka kita pasti akan dikangenin & akan dicari saat nggak ada.

Saat kita terbiasa untuk memberikan manfaat lebih, maka Alam Semesta & Sang Pencipta juga nggak akan tinggal diam. Selalu ada imbalan yang akan kita terima, entah sekarang atau nanti. Entah apa wujud dari imbalan yang diberikan oleh Sang Pencipta.

“Ngunduh Wohing Pakerti” (memetik atas apa yang telah kita perbuat) hal itu pasti terjadi dalam kehidupan ini.

5 1 vote
Article Rating

Related Article

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Perlu Bantuan?